Blog

Untukmu…?

 

Waktu itu aku enggan mengenal dan dekat dihatimu

Namun, berjalannya waktu,,,

Entah kenapa?

Aku mulai nyaman dengan adamu

Mungkin,,,

Hatiku tersentuh cinta

Atas perhatianmu dan anggunnya budi agamamu

Kini aku mulai merasakan

Tanpamu aku tak utuh

Entah ini perasaan apa? Dan darimana asalnya?

Hanya mengalir saja

Dan bermuara di relung hatiku

Hingga aku berfikir

Kaulah tulang rusukku

Berada di belakangku

Menjadi makmum

Dalam setiap sujudku

Sekali lagi aku berfikir

Apakah kamu yang dipilih Robku?

Jawaban atas do’a

Disetiap sujud lamaku

Disepertiga malam itu

Hatiku berkata ia

Engkaulah penggenap ganjilku

Penyempurna kekurangku

Pelita gelap hatiku

Dan penuntun dikala senja menyapaku

Secercah harapan ini

Akan senantiasa ku jaga

Hingga kita bertemu dalam ridhon-Nya

Ridho yang akan menyatukan selamanya

Dengan ikatan halal

SAKINAH, MAWADDAH, DAN WAROHMAH

 

Surakarta, Jum’at, 01 Desember 2017

BUKAN MAHASISWA? no read, no write, no effort, and not student.

index
menulislah, semakin engkau banyak menulis, maka semakin banyak yang dikenang darimu. meskipun engakau nantinya telah tiada. maka menulislah !!!

Salah satu tugas pokok mahasiswa adalah membaca, membaca hal apapun yang bermanfaat baginya. Mungkin artikel, majalah, Koran, novel, cerpen, dan lain sebaginnya. Membaca adalah salah satu bentuk dari budaya literasi, yang mungkin budaya literasi saat ini sudah sangat menurun dikalangan mahasiswa.

Budaya literasi adalah bentuk keutuhan mahasiswa yang harus selalu dijaga adanya. Dikarenakan ini yang akan membedakan antara mahasiswa dan bukan mahasiswa. Dalam sebuah lembaga pendidikan tinggi, hal yang paling ditekankan pada peserta didiknya pastilah kapasitas ilmunya. Perihal ini akan dicapai, jika peserta didiknya gemar membaca atau menghidupkan budaya literasinya. Sangat miris jika mahasiswa tidak kenal dengan budaya literasi atau tidak paham apa itu literasi?.

Kenyataannya dilingkungan mahasiswa saat ini budaya literasi sangat minim sekali. Hanya ada beberapa mahasiswa yang memang sungguh-sungguh untuk menekuninya. Itupun jika ada kepentingan ketika ada tugas atau skripsi yang menuntut mahasiswa harus membaca. Diluar itu mahasiswa hanya santai-santai saja. Kalau kita perhatikan dengan seksama, mahasiswa saat ini lebih senang memainkan HP dari pada membaca. Kalau ini kita biarkan terlalu lama, maka yang terjadi adalah ketidak mapanan mahasiswa dari segi ilmunya. Dikarenakan selama berada dikampus mahasiswa hanya memainkan HP tanpa mempedulikan tugas pokoknya yaitu mencari ilmu, membaca dan memperbanyak literasi.

Literasi mungkin sangat minim digandrungi oleh mahasiswa. Tapi jangan sampai literasi itu hilang dari lingkungan mahasiswa. Karena literasilah yang akan menuntun mahasiswa pada kebenaran, literasilah yang akan menuntun mahasiswa dari keterpurukan, literasilah yang akan menuntun mahsiswa pada perkembangan peradaban zaman, literasilah yang akan menuntun mahasiswa pada kesuksesan dunia dan akhirat. Hal ini tidak dapat dipungkiri oleh semua mahasiswa, sadar atau tidak sadar mahasiswa harus menyadarinya. Bahwa budaya literasi inilah yang akan membawanya pada kebenaran dan kebahgiaan yang hakiki.

Pengertian Budaya Literasi

Diatas sudah dibahas panjang lebar mengenai pentingnya budaya literasi bagi mahasiswa. Sekarang mari kita alihkan pada hal lain mengenai budaya literasi itu sendiri. Mari kita mulai dari pengertian literasi.

Menurut kamus online Merriam-Webster, Literasi berasal dari istilah latin ‘literature’ dan bahasa inggris ‘letter’. Literasi merupakan kualitas atau kemampuan melek huruf/aksara yang di dalamnya meliputi kemampuan membaca dan menulis. Namun lebih dari itu, makna literasi juga mencakup melek visual yang artinya “kemampuan untuk mengenali dan memahami ide-ide yang disampaikan secara visual (adegan, video, gambar).”

National Institute for Literacy, mendefinisikan Literasi sebagai “kemampuan individu untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat.” Definisi ini memaknai Literasi dari perspektif yang lebih kontekstual. Dari definisi ini terkandung makna bahwa definisi Literasi tergantung pada keterampilan yang dibutuhkan dalam lingkungan tertentu.

Education Development Center (EDC) menyatakan bahwa Literasi lebih dari sekedar kemampuan baca tulis. Namun lebih dari itu, Literasi adalah kemampuan individu untuk menggunakan segenap potensi dan skill yang dimiliki dalam hidupnya. Dengan pemahaman bahwa literasi mencakup kemampuan membaca kata dan membaca dunia.

Menurut UNESCO, pemahaman orang tentang makna literasi sangat dipengaruhi oleh penelitian akademik, institusi, konteks nasional, nilai-nilai budaya, dan juga pengalaman. Pemahaman yang paling umum dari literasi adalah seperangkat keterampilan nyata – khususnya keterampilan kognitif membaca dan menulis – yang terlepas dari konteks di mana keterampilan itu diperoleh dan dari siapa memperolehnya.

UNESCO menjelaskan bahwa kemampuan literasi merupakan hak setiap orang dan merupakan dasar untuk belajar sepanjang hayat. Kemampuan literasi dapat memberdayakan dan meningkatkan kualitas individu, keluarga, masyarakat. Karena sifatnya yang “multiple Effect” atau dapat memberikan efek untuk ranah yang sangat luas, kemampuan literasi membantu memberantas kemiskinan, mengurangi angka kematian anak, pertumbuhan penduduk, dan menjamin pembangunan berkelanjutan, dan terwujudnya perdamaian. Buta huruf, bagaimanapun, adalah hambatan untuk kualitas hidup yang lebih baik.

Dapat disimpulakan bahwa literasi merupakan kemampuan membaca dan menulis. Kemampuan tersebut harus dilatih dan dikembangkan, dengan begitu literasi seseorang menjadi baik, ketika mau mengembangkan dan melatih diri. Literasi bukan kemampuan sejak lahir, namun literasi merupakan kemampuan yang harus diasa dari waktu kewaktu.

Sedangkan budaya literasi sendiri dapat diartikan kebiasaan berfikir yang diikuti oleh sebuah proses membaca, menulis dan pada akhirnya apa yang dilakukan dalam sebuah proses kegiatan tersebut akan menciptakan karya entah itu, makalah, puisi, cerpen, novel dan berbagai macam tulisan yang lainnya.

Bagaimana membudayakan literasi dikalangan Mahasiswa?

Budaya literasi dikalangan mahasiswa memang sulit diterapkan, apalagi mahasiswa terkenal dengan plagiarismenya. Ketika mengerjakan tugas yang diberikan dosen, mahasiswa jarang sekali untuk jujur dalam mengerjakannya, lebih mengedepankan jalan praktis dibandingkan proses belajar. Padahal yang menjadi kunci mereka sukses dan mendapatkan berkah dalam belajar adalah dengan mengikuti proses belajar mengajar secara bertahap.

Penyebab plagiarisme adalah ketakutan mahasiswa akan hasil karyanya yang tidak sempurna, atau karena malasnya diri untuk membaca. Dan biasanya yang menjadi sebab utama adalah karena malas untuk membaca buku, berfikir dan mencari simpul dari sebuah tugas dan menulisnya. Seharusnya mahasiswa harus sadar bahwa Allah memberikan kenikmatan yang luar biasa pada dirinya yakni sebuah akal untuk berfikir, mulut untuk membaca, tangan untuk menulis, dan kenikmatan lain yang patut disykuri. Wujud syukur atas nikmat Allah yang paling kongkrit adalah dengan menggunakan kenikmatan tersebut sesuai fitrahnya, tentunya digunakan untuk hal-hal yang baik.

Plagiarisme sendiri bukan bentuk syukur pada Allah, akan tetapi bentuk nyata kita ingkar akan nikmat Allah. Bukan hanya itu saja, plagiarisme juga akan membentuk suatu budaya yang tidak baik di lingkungan kampus, sekolah ataupun masyarakat. Akan menimbulkan suatu penyakit permanen yang sulit untuk disembuhkan. penyakit ini timbul karena efek praktis yang membahagiakan para pecandunya. Ibarat orang yang terkena candu barang haram yaitu narkoba. Parahnya lagi, hal ini akan menyebabkan ketidak mandirian seseorang dalam mengerjakan tugas.

Nah, sekarang kita bahas lebih lanjut bagaimana caranya membudayakan literasi di kalangan mahasiswa?. Tentunya pembahasan kali ini perlu adanya diskusi-diskusi dikalangan pemerintahan untuk membuat kebijakan yang dapat meningkatkan budaya literasi. Tidak hanya itu saja, ketika ada kebijakan tersebut dari pihak intansi pendidikan menyambut kebijakan tersebut dengan baik. Misalnya kebijakan Jokowi pada tahun ini dengan membagikan buku-buku keplosok pulau atau desa yang sulit mendapatkan buku. Ini harus direspon dengan baik oleh instansi pendidikan. Setelah itu pihak intansi pendidikan diharapkan mampu menyalurkan kepada peserta didiknya dan dilanjutkan membuat kegiatan literasi yang berkesinambungan.

Literasi dapat dibangun di lingkungan keluarga.  Anak-anak dibiasakan membaca buku, dengan begitu ketika menginjak dewasa sudah terbiasa membaca dan melanjutkan kegiatan menulis. ketika hal ini dapat dilakukan, maka karya tulis mudah dibuat oleh anak-anak kita. Dengan hal itu juga pengetahuan anak-anak kita akan meningkat secara baik. Saya teringat dengan prof. Hamka, beliau menjadi profesor bukan karena lulus dari sarjana. Namun, beliau bisa menjadi profesor dan mempunyai karya yang banyak dikarenakan beliau rajin membaca dan menulis dari kecil sampai dewasa. Kita dapat membayangkan, seandainya budaya literasi ini kita kembangkan dari sejak dini maka akan bermuculan hamka-hamka yang baru di Indonesia ini.

Oke, kita lanjutkan pada cara membudayakan literasi dikalangan mahasiswa. Sebenarnya banyak sekali cara untuk melakukannya, tapi yang perlu diingat budaya itu dapat terjadi ketika ada yang mau bersabar memulainya dari awal sampai akhir. Yang membuat sulit adalah istiqomah dalam perjalannya.

Menurut hemat saya, ada beberapa hal yang setidaknya dapat mendukung budaya literasi dikalangan mahasiswa terealisasi.

Optimalisasi Fungsi Perpustakaan

Perpustakaan merupakan pusat studi membaca dan keberaksaraan (licteracy). Ibarat sebuah jantung, perpustakaan merupakan sarana yang dapat memompakan pemenuhan rasa ingin tahu para mahasiswa. Aktivitas yang sejatinya perlu dikelola secara optimal dalam perpustakaan, yaitu:

  1. Optimalisasi Saran dan Prasarana

Mahasiswa revolution tidak hanya mebaca textbook untuk kepentingan kuliah, maka dibutuhkan system yang mampu mendorong mereka untuk rajin membaca. Optimalisasi perpustakaan kampus merupakan hal yang sangat penting dilakukan. Pihak kampus perlu memperhatikan lebih jauh bagaiaman membuat perpustakaan fakultas dan pusat menjadi nyaman. Dari sekian banyak universitas, barangkali hanya universitas ternama yang memiliki sarana dan prasarana yang mendukung. Sebaliknya, universitas lainnya masih mebutuhkan perhatian khusus. Oleh karena itu, dibutuhkan kerjasama antara elemen pemerintah dan pihak kampus dalam mengembangkan perpustakaan menjadi lebih baik, mislaknya, menyediakan dan lebih untuk penambahan buku, pengadaan computer, hot-spot, serta aktivitas keilmuan.

  1. Dukungan Dosen

Salah satu output dari membaca adalah menulis dan meneliti. Dibutuhkan peran dosen dalam mendorong mahasiswanya untuk melakukan penelitian. Dengan tugas-tugas konstruktif yang bersifat analitis, maka mahasiswa akan sering mendatangi perpustakaan dan terdorong untuk membaca, menulis, dan meneliti.

  1. Pengadaan Lomba

Selain itu, perpustakaan juga bisa menyelenggarakan lomba karya tulis untuk mahasiswa di tingkat universitas, serta menggiatkan aktivitas keilmuan dengan konsep yang menarik. Kerjasama antara mahasiswa dan unit kegiatan mahasiswa (UKM) untuk menggiatkan aktivitas keilmuan juga dirasa efektif dalam meningkatkan nuansa keilmuan di kampus.

Optimalisasi Kelompok Studi (KS)

Adalah hal yang wajib bagi setiap perguruan tinggi untuk memiliki komunitas atau kelompok studi yang khusus bergerak dalam bidang keilmuan dan riset. Kelompok studi ini hendaknya dibangun berdasarkan core competence masing-masing fakultas. Namun, akan lebih baik jika semua KSF (Kelompok Studi Fakultas) memiliki KS pusat yang merangkul semua disiplin ilmu. Ini merupakan langkah yang baik untuk menuansakan budaya literasi dikalangan mahasiswa.

UGM misalnya, memiliki kelompok studi bernama Gama Cendekia (GC) yang saat ini memiliki lebih dari 500 anggota. Begitu juga dengan IPB yang memiliki Forum For scientific Studies (Forces). Kedua universitas ini seringkali menjuarai PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional), suatu ajang keilmuan bergengsi di tingkat nasional. Aktivitas ini tentu saja didukung penuh oleh rektorat. IPB misalnya, bahkan memasukkan PKM (Program Kreativitas Mahasiswa) PIMNAS sebagai mata kuliah wajib. Bagi mahsiswa yang menjuarai PKM di tingkat nasional. Karya mereka senilai dengan kewajiban membuat skripsi. Namun, Universitas Indonesia, Universitas terbaik di Indonesia, pelopor diselenggarakannya PIMNAS kali pertama, justr tidak pernah sekalipun mendapatkan juara umum, berbeda dengan UGM, IPB, maupun Unibraw.

Kelompok studi fakultas universitas lainnya, dapat belajar  dari KS UGM dan IPB dalam menciptakan nuansa keilmuan pada mahasiswa. Bagaimanapun, dukungan rektorat dibutuhkan untuk merealisasikan hal tersebut. UKM semisal Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) juga dapat menggulirkan program kerja lomba karya tulis atau jurnal ilmiah di tingkat universitas untuk memacu semangat para mahasiswa. Di mulai dari mahasiswa, maka penulisan jurnal ilmiah dapat lebih digiatkan sehingga ada regenerasi dan kaderisasi yang efektif.

Dalam membudayakan literasi dikalangan mahasiswa tentunya tidak mudah. Harus ada rencana dan sistem yang matang, sistem yang matang akan mempermudah perjalanan kedepan. Dan tentunya yang paling penting adalah usaha keras, sabar, tekun, istiqomah, dan berdo’a.

Islam Membolehkan Pacaran?

kata-kata-mutiara-cinta

Guys,,,pasti sudah tidak asing lagi dengan kata “PACARAN”. Nah, kali ini kita akan membahas pacaran dari asal usulnya serta sudut pandang Islam. Dari mana sih asal usul pacaran? Dan bagaimana Islam  memandang pacaran? Yuk, kita simak penjelasannya dibawah ini guys,,,

kata pacaran sebenarnya tidak ada dalam Islam. Di al-Qur’an dan al-Hadist pun tidak ada kata pacaran. Bahkan kitab-kitab rujukan umat muslim untuk belajar ilmu agama tidak ada di dalamnya menyebutkan kata pacaran.

Sekarang muncul pertanyaan “trus dari mana asal usul kata pacaran?”

Begini guys,,,Saat ini kata pacaran sudah populer di telinga masyarakat. Anak SD pun sudah mengenal kata pacaran, tidak heran lagi kalau ditanyakan arti pacaran pasti mereka bisa menjawabnya. Apalagi sekarang banyak sekali istilah pengganti kata pacaran, di Surabaya pacaran biasa disebut gendaan, di  Madura pacaran biasa disebut sir-siren, sedangkan dalam bahasa gaul pacaran sering disebut Jadian. Dan masih banyak lagi istilah-istilah kata pacaran di luar sana gays.

Sebenarnya kata pacaran itu berasal dari budaya melayu lho guys,,,kok bisa?,,,

Begini ceritanya. Dahulu, di masyarakat Melayu khususnya, ada budaya memakaikan pacar air (masyarakat Melayu biasa menyebutnya inai) pada dua orang muda mudi yang ketahuan saling tertarik oleh keluarganya. Biasanya sang pemuda mengirimkan sinyal tertariknya dengan mengirim tim pembaca pantun untuk sang gadis pujaannya. Nah, tim tadi akan berpantun tepat di depan halaman rumah sang gadis.

Nah, jika si gadis menyambut pantun sang pemuda dan keduanya ingin meneruskan hubungan mereka maka orang tua keduanya memberikan pacar air ditangan keduanya. Inai tersebut sebagai tanda bahwa keduanya telah memiliki hubungan. Nah, ini yang sebenarnya sangat bertanggung jawab, inai yang ada di tangan akan hilang selama tiga bulan dan selama waktu itulah sang pemuda mempersiapkan segala kebutuhan untuk melamar sang gadis. Jika sampai Inai di tangan mereka hilang dan belum juga ada lamaran atau konfirmasi lebih lanjut maka si gadis behak untuk memutuskan hubungan tersebut dan menerima pinangan lelaki lain. Dan jangan bayangkan selama tiga bulan tersebut mereka berpacaran seperti pacarannya anak zaman sekarang. Mereka sangat terjaga sebelum pernikahannya terjadi. Begitu guys ceritanya,,,

Nah, dari cerita diatas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa pacaran itu berasal dari pacar air yang diberikan kepada muda mudi Melayu yang saling tertarik, sebagai tanda mereka mempunyai ikatan. Dan waktu itu, muda mudi yang sudah punya ikatan harus saling menjaga dan tidak pacaran seperti anak muda zaman sekarang. Jadi budaya pacaran yang terjadi saat ini merupakan bentuk penyelewengan dari sejarah awalnya.

Diatas adalah penjelasan pacaran dari asal usulnya. Sekarang bagaimana islam memandang pacaran guys? Yuk kita ikuti penjelasan dibawah ini.

Seperti ini guys penjelasannya, Allah SWT berfirman dalam Qs. Al-Isra ayat 32 :

وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاء سَبِيلاً

Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS.Al Israa. ayat 32)

Dalam menafsirkan ayat diatas Ibnu Katsir berkata : bahwa Allah swt, mengharamkan hamba-hambaNya berbuat zina, begitu pula mendekatinya dan melakukan hal-hal yang mendorong dan meyebabkan terjadinya zina.

Berkata Imam Al Qurtuby : “para ulama berkata “Firman Allah swt, (وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى)”Janganlah kamu mendekati zina” ini lebih baligh (mendalam)-maknanya- daripada perkataan (وَلاَ تَزَنُّوْا)  “Janganlah kalian berbuat zina”. Maksudnya adalah bila digunakan kalimat (وَلاَ تَزَنُّوْا)  “Janganlah kalian berbuat zina”, maka yang diharamkan Allah adalah hanya zina saja melainkan segala sesuatu yang mendekatinya tidak haram. Maka dengan seperti ini kurang baligh maknanya. Sedang Allah menggunakan kalimat  (وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى)”Janganlah kamu mendekati zina”, yang dimana bermakna sangat mendalam. Yaitu apa saja yang mendekati zina adalah haram terlebih lagi berzinanya sudah sangat jelas diharamkan.

Asy-Syaukani dalam Fath Al Qadir (3/315) berkata : “ Dalam pelarangan zina dengan menggunakan mukadimahnya (pengantar) dan larangan ini paling kuat. Sesunggunya segala sesuatu sarana menuju keharam, maka haram pula hukumnya berdasarkan makna eksplisit ungkapan (وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى) itu. Adapun mendekati zina dalam prakteknya ada beberapa pendekatan (muqadimah/pengantar) , seperti khalwat, ikhtilat,mengumbar aurot, pandangan mata yang liar dan pikiran atau hati yang kotor.

Guys, Inti dari tiga penafsiran diatas adalah Allah SWT tidak hanya sekedar melarang kita mendekati zina, akan tetapi lebih dari itu Allah memerintahkan kepada hambanya agar tidak terjerumus kepada hal-hal yang mendorong perbuatan zina. Dan salah satu perbuatan yang mendorong berbuat zina adalah khalwat (berdua-duaan) atau istilah kerennya sekarang adalah pacaran. Inilah perbuatan yang nantinya akan menjerumus pada perbuatan zina.

Rasulullah SAW sendiri memerintahkan kepada umatnya agar menjauhi perbuatan khalwat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّوَمَعَهاَذُو مَحْرَمٍ

Artinya: “Janganlah seorang laki-laki itu berkhalwat (menyendiri) dengan seorang wanita kecuali ada mahram yang menyertai wanita tersebut.” (HR. Bukhari & Muslim)

Guys, Hadist diatas menerangkan bahwa Rosulullah SAW melarang umatnya agar tidak melakukan kholwat atau berdua-duaan yang bukan mahramnya. Dikarenakan ketika seseorang melakukan kholwat maka disitu syetan dengan leluasa akan menghasud manusia dengan perbuatan keji dan mungkar. Maka untuk itu sebagai umat yang mencintai Rosul-Nya agar menjauhi kholwat.

Berdasarkan firman Allah dan sabda Rsulullah diatas, maka dapat disimpulkan bahwa islam mengharamkan secara mutlak khalwat (berdua-duaan) atau pacaran. Ketika ada hukum haram maka umat islam tidak boleh melakukannya walaupun dengan berbagai alasan.

Intinya guys, yuk sekarang kita sama-sama berdakwah untuk menjauhi pacaran. Mulai dari diri kita terlebih dahulu, setelah itu keluarga kita, teman dekat kita, tetangga kita dan lain sebagainya. Mari kita ajak bersama-sama untuk menjauhi pacaran. Dikarenakan pacaran pada saat ini merupakan penyelewengan dari sejarah awalnya, dan tentunya islam sendiri pun mengharamkan untuk melakukannya.

Semoga bermanfaat,,,

Tafsir Literasi dalam al-Qur’an

index

Ayat pertama yang diturunkan Allah melalui malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad adalah surat Al-‘Alaq ayat 1-5. Ayat pertama bunyinya adalah iqro’ bismirobbikal ladzii kholaq yang artinya bacalah dengan menyebut nama tuhanmu yang maha menciptakan. Dalam ayat pertama ini mempunyai filosofi yang luar biasa bagi kehidupan manusia. Coba kita perhatikan dengan seksama, mengapa Allah menurunkan surat pertama dengan kata iqro’ (bacalah)? Kalau kita bisa memperhatikannya dan memahaminya secara mendalam, maka kita akan menemukan dasar-dasar mendapatkan ilmu pengetahuan.

Terdapat beberapa penafsiran mengenai iqro’ ini. Dan salah satunya adalah bahwa iqro’ tersebut yang mempunyai arti bacalah bukan dalam artian hanya membaca buku saja, akan tetapi bisa diartikan bahwa kita diperintakan Allah SWT untuk membaca keadaan lingkungan disekitar kita juga. Maka dapat kita simpulkan arti bacalah ini bukan dalam lingkup micro, akan tetapi mempunyai lingkup macro. Karena lingkupnya macro, maka bacalah ini mempunyai peranan yang luar biasa dalam kehidupan manusia. Apa lagi dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Dasar pertama kali untuk mendapatkan ilmu adalah dengan membaca, membaca ini dalam artian membaca apapun yang dilihat atau yang didengar. Dengan membaca, maka akan menjadi lebih tahu dari sebelumnya dan tidak akan ketinggalan mengenai informasi apapun yang ada di dunia ini. Membaca juga akan menambah daya ingat, walaupun nantinya kita mulai tua daya ingat kita akan tetap utuh dan tidak akan mudah pikun. Orang yang tuanya pikun itu karena di masa mudanya sedikit dan jarang membaca. Sehingga daya ingatnya menurun dan menjadi pikun. Ketika sudah pikun, maka akan menyusahkan orang lain. Apakah kita mau seperti orang-orang yang pikun dan menyusahkan orang lain? Jawabannya pasti kita tidak ingin. Jika tidak ingin, maka bacalah apa saja yang positif di sekitarmu.

Membaca bukan kerjaan mudah ataupun sulit. Akan tetapi membaca tergantung pada individu seseorang. Jika orang tersebut hoby membaca, maka tidak heran kalau setiap saat dia akan membaca. Tetapi sebaliknya jika orang tersebut tidak hoby membaca, maka dia akan mudah bosan atau ngantuk ketika membaca. Hal ini bisa kita atasi dengan kata “terbiasa”. Karena orang hoby itu karena terbiasa. Maka untuk kita yang belum hoby membaca, mulai saat ini kita biasakan untuk membaca. Walaupun nanti dalam menjalaninya sangat sulit dan membutuhkan proses yang cukup lama. Tapi tidak masalah dengan proses itulah kita akan menjadi orang yang benar-benar hoby membaca. Jikalau sudah hoby membaca, maka jendela dunia akan terbuka lebar-lebar bagi kita. Kita akan menjadi lebih tau dari sebelumnya dan wawasan kita akan menjadi lebih luas seperti cakrawala dunia ini.

Ingat membaca bukanlah perkara yang mudah. Karena terbukti banyak orang yang tidak suka membaca. Terbukti juga banyak orang yang ketika membaca tambah cepat ngantuk dan bosennya. Maka untuk mengatasinya ada cara lain yang lebih mudah dalam membaca yakni bacalah lingkungan sekitar kita. Ketika lingkungan kita kurang baik maka segera kita perbaiki. Akan tetapi jika sudah baik, maka lebih kita perbaiki lagi. Maka untuk itu, Bacalah!bacalah! dan bacalah!.

Setelah membaca, maka kita butuh pengikatnya yang erat agar tidak mudah lepas apa yang sudah kita baca atau yang sudah kita pelajari sebelumnya. Pengikat tersebut adalah yang menentukan masa depan kita selanjutnya. Karena pengikat ini adalah kunci setelah kita membaca. Tanpa pengikat ini apa yang sudah kita baca saya yakin akan mudah hilang dan mudah lepas dari ingatan kita. Sangat salah kalau orang-orang beranggapan bahwa membaca itu sudah cukup bagi kita. Padahal kalau kita bisa berfikir secara rasional dengan analogi yang aka saya buat dibawah ini:

“membaca itu kita ibaratkan seperti barang berharga yang kita miliki seperti uang atau emas yang baru diambil dari bank. Terus pengikat kita ibaratkan seperti tas yang ditutup rapi dengan gemboknya. Lha coba kita banyangkan ketika uang atau emas yang kita ambil dari bank itu tidak kita taruh ditempat aman seperti tas tadi yang tertutup rapi dengan gemboknya. Coba apa yang akan terjadi pada uang atau emas itu. Pasti uang atau emas itu akan mudah hilang”

Sama dengannya membaca, ketika sudah membaca dan file-file dari yang kita baca sudah menumpuk di otak. Kalau tidak diikat betul, maka akan sia-sia semuanya tidak ada gunanya sama sekali. Sekarang pertanyaannya dengan apa kita mengikatnya? Tentu dan sudah jelas kita mengikatnya dengan Menulis dan merealisasikan apa yang sudah kita baca dalam kehidupan sehari-hari. Dengan dua cara ini InsyaAllah apa yang sudah kita baca tidak akan mudah hilang dalam otak kita dan malah akan bermanfaat bagi kita dan orang lain disekitar kita.

Yang perlu kita perhatikan sekarang adalah cara menulis dan merealisasikan bacaan kita dengan baik, bagaimana caranya? Yang perlu diingat ketika menulis bacaan kita tidak harus keseluruhan secara detail, akan tetapi yang perlu kita tulis dalam buku adalah point-point pengtingnya saja yang sekiranya bagus buat kita.

Ketika menulis juga jangan memakai laptop, akan tetapi memakai tulis tangan secara original. Ini gunanya apa? Gunanya adalah agar memudahkan kita lebih ingat dengan bacaan kita dan lebih efisien ketika membutuhkannya untuk dibawa atau lebih lama tersimpannya. Setelah cara menulis kita sudah baik, hal yang perlu kita perhatikan selanjutnya adalah kita harus merealisasikan point-point penting apa saja yang sudah kita tulis tersebut. Agar nantinya kita tidak hanya membaca, menulis saja, akan tetapi kita juga merealisasikannya. Gunanya ini adalah agar bacaan ataupun tulisan kita membekas dalam diri kita syukur-syukur bisa bermanfaat bagi keluarga dan masyarakat sekitar.

Yang sangat penting dalam bagian terakhir adalah istiqomah yakni terus menerus. Ketika membaca, menulis dan merealisasikannya sudah. Maka tahap selanjutnya adalah kita perlu mengistiqomahkannya karena bagian ini yang paling penting dalam setiap tindak tanduk baik kita, tanpa istiqomah maka semuanya akan terasa sia-sia tanpa ada bekasnya sedikitpun dalam diri kita. Bekas baik inilah yang kita harapkan ketika sudah membaca, menulis dan merealsaikannya.

Perkara di atas mungkin adalah tahapan yang perlu kita perhatikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Ingin atau tidak ingin pasti kita akan dihadapi hal-hal yang sudah saya paparkan diatas, maka jadilah orang yang membaca, menulis dan merealisasikannya. Succses buat kamu yang ingin mempraktekannya. Good Luck

PERNAHKAN ANDA MERENUNGI CIPTAAN ALLAH SWT? (tentang manusia, akal, dan semesta alam raya ini)

space3

Tidak dapat dipungkiri, bahwa salah satu hal yang membuktikan akan keberadaan Allah adalah ciptaannya tentang alam semesta ini. Alam semesta ini diciptakan allah untuk hambanya yakni semua makhluk yang ada dalam semesta raya ini. Salah satu makhluk yang sangat dimuliakan Allah akan keberadaannya dan perbedaan yang dimilikinya akan akalnya. Makhluk tersebut adalah spesies dari golongan kita yakni manusia.

Manusia diciptakan Allah ta’ala dengan kelebihan yang luar biasa. Kelebihan yang dimiliki manusia tidak dapat dimiliki oleh makhluk lain, hewan sekalipun tidak akan dapat memilikinya. Karena hewan diciptakan allah ta’ala hanya berbekal otak saja sehingga hewan tidak dapat memilah mana yang benar dan mana yang salah. Berbeda dengan manusia, manusia diciptakan Allah Ta’ala dengan beberapa bekal, salah satu bekal yang sangat menonjol yang dimiliki manusia adalah akalnya. Akal manusia dapat digunakan sebagai alat untuk memilah mana yang baik dan mana yang salah, mana yang haram dan mana yang halal. Manusia tidak semata-mata menggunakan hatinya atau nafsunya dalam bertindak. Akan tetapi manusia membutuhkan akal untuk menyaring kata hatinya sebelum bertindak.

Terdapat pepatah arab yang mengatakan “berfikirlah sebelum bertindak” ini adalah salah satu pepatah arab yang popular. Dapat digunakan perinsip bagi setiap manusia, sebelum bertindak manusia diharuskan untuk nerfikir terlebih dahulu. Berfikir itu tidak menggunakan otak atau nafsu saja, akan tetapi lebih tepatnya berfikir itu menggunakan akal yang positif tingking yang penuh keyakinan dan harapan. Akal memiliki peranan yang sangat penting dalam hidup dan kehidupan manusia. Tanpa akal manusia ini ibarat hewan yang lapar yang ingin mencari mangsanya, sangat buas dan sangat ganas.

Maka bersyukurlah bagi manusia yang diciptakan dan dimuliakan Allah dengan kelebihan akalnya. Jangan sampai dengan kelebihan yang manusia miliki malah menyebabkannya masuk neraka bukan surga-NYA. Salah satu bentuk ketidak syukuran manusia kepada akal adalah menggunaknnya untuk bermaksiat pada Allah. Dan salah satu bentuk syukurnya manusia terhadap akalnya adalah dengan merenungkan ciptaan Allah yakni alam semesta raya ini. Dengan begitu manusia akan menyadari, bahwa begitu luar biasanya Allah yang telah menciptakan dirinya dan alam semesta ini. Dengan begitu juga manusia akan lebih dekat dengan makhluknya Allah. Dengan dekat, maka akan membuat manusia akan cinta alam semesta ini. Dan dengan manusia cinta alam semesta ini akan menghantarkan kedekatnnya dengan penciptanya yakni Allah SWT.

Manusia, akal dan alam semesta ini mempunyai daya filosofis yang luar biasa. Yang akan menciptakan suatu peradaban seperti zaman rosulullah, para sahabat dan tabi’in. selain mereka beriman, mereka juga tidak ketinggalan akan peradaban modern. Jika kita menggunakan kelebihan akal kita dengan merenungkan berbagai ciptaan Allah, maka kita akan menemukan ilmu baru (sains) yang kebanyakan ilmu ini sudah  dikembangkan orang-orang noni atau Non-islam (orang kafir).

Maka, saat inilah waktunya orang-orang islam berfikir dan merenungkan akan ciptaan Allah. Agar lebih dekat kepadanya dan agar mendapatkan ilmu yang terkandung didalamnya. Kalau kita sudah dapat meraihnya, maka sungguh kebahgiaann dunia dan akhirat akan kita dapatkan. Karena dengan berfikir kita mendapatkan ilmu, dengan ilmu kita mendapatkan dunia dan akhirat. Sebagai mana bunyi hadits dibawah ini yang artinya:

“barang siapa yang menginginkan kebahagiaan dunia maka dengan ilmu, barang siapa yang menginginkan kebahagiaan akhirat, maka dengan ilmu dan barang siapa yang menginginkan kebahagiaan keduanya maka dengan ilmu”

Hadist diatas memberikan suatu isyarat kepada semua manusia, ketika kita menginginkan kebahagiaan dunia dengan akhirat maka berfikirlah dengan berfikir kamu akan mendapatkan ilmu dunia dan akhirat. Akan tetapi perlu kita ingat, ilmu bisa kita dapatkan ketika kita tidak bermaksiat pada Allah SWT. Sebagai mana hadist dibawah ini:

“ilmu itu cahaya, dan cahaya itu tidak akan diberikan keapada orang yang bermaksiat”

Ini adalah dasar-dasar yang harus kita perhatikan seksama. Tentang penciptaan manusia, akal dan alam semesta raya ini. Semoga bermanfaat……

Semangat Dakwah Dikalangan Remaja

 

IMG-20170319-WA0023Penguat Dakwah dikalangan Remaja

Allah SWT berfirman:

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

Artinya : “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (Q.S An-Nisa’ : 9)

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ

Artinya : “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa” (Q.S Ar-Rum : 54)

Ayat diatas menjadi dasar semangat kita wajib  berdakwah dikalangan remaja. Surat dan ayat pertama Allah SWT memerintahkan umat islam agar tidak meninggalkan generasi-generasi yang lemah, namun Allah SWT sangat menganjurkan dan mewajibkan umat islam memiliki generasi-generasi yang kuat dari segala hal dan bidang. Sedangkan disurat dan ayat kedua Allah SWT memberikan Hudan (suatu petunjuk) kepada umat islam bahwa terdapat manusia yang lemah diantara dua kelemahan yakni pemuda.

Sangat jelas bahwa pemuda merupakan ujung tombak kejayaan umat islam, bukan hanya umat islam saja, namun secara global bagi umat yang lainnya juga. Pemuda memiliki potensi yang sangat potensial untuk dikembangkan kearah kebaikan maupun keburukan. Potensi ini akan sejalan dengan segala hal yang ditangkap dan dirasakan oleh indera. Oleh karena itu hendaknya potensi ini harus didasari oleh iman dan arahan yang baik dari orang sekelilingnya  terutama orang tuanya.

Dari dasar inilah, maka kita harus tergerak untuk berdakwah dikalangan remaja. Belum ada instansi atau organisasi satupun yang betul-betul secara istiqomah mengarahkan para pemuda dan remaja kearah yang baik. Untuk itu, peluang ini kesempatan bagi kita semua untuk berdakwah dikalangan pemuda dan remaja. Mengembalikan dan mengarahkan semnagat mereka kepada hal yang sangat dirindukan Allah dan Rosullanya yakni kembali kepada masjid. Dengan cara kembali dan mencintai masjid, maka para pemuda nantinya akan mencintai agamanya dan nantinya akan mendapatka naungan dari Allah SWT.

Rosulullah saw bersabda :
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ أَخْفَى حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَ

“Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: 

  1. Pemimpin yang adil.
  2. Pemuda yang tumbuh diatas kebiasaan ibadah kepada Rabbnya.
  3. Lelaki yang hatinya terpaut dengan masjid.
  4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah, sehingga mereka tidak bertemu dan tidak juga berpisah kecuali karena Allah.
  5. Lelaki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik lalu dia berkata, ‘Aku takut kepada Allah’.
  6. Orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.
  7. Orang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sendiri hingga kedua matanya basah karena menangis.”(HR. Al-Bukhari no. 620 dan Muslim no. 1712)

Hadist diatas menjelaskan bahwa salah satu golongan yang nanti akan mendapatkan naungan Allah di padang mahsyar adalah pemuda yang tumbuh diatas kebiasaan ibadah kepada Rabbnya dan lelaki yang hatinya terpaut pada masjid. Dari kedua indikator tersebut, kita kontekskan dengan keadaan remaja saat ini. Sudahkah memenuhi indikator diatas? Sudahkan remaja saat ini melaksanakannya? Tentunya, kalau kita cermati dengan baik ternyata remaja sekarang belum memenuhi dan melaksnakan indikator tersebut.

Inilah yang menjadi dasar bahwa perlunya kita berdakwah dikalangan remaja. Apalagi sekarang organisasi yang menghandle remaja secara konsisten belum ada gaungnya sama sekali. Beberapa organisasi remaja disekolah, dimasjid ataupun dikalangan masyarakat rata-rata sudah mati suri sejak lama. Mungkin itu karena tidak ada kaderisasinya ataupun dari masayarakatnya yang tidak mendukungnya, tentunya banyak sekali alasan yang melatar belakanginya. Riskan sekali jika remaja tidak ada yang mengarahkan kejalan yang baik, ujung-ujungnya nanti akan terjadi degradsi moral dan bencana yang sangat luar biasa. Jangan dianggap ini adalah hal yang sudah terbiasa terjadi, tapi anggaplah ini kejadian yang harus segera dicari solusinya bersama. Agar generasi kedepannya lebih cerah dan membahgiakan bagi umat dan bangsa.

Blog di WordPress.com.

Atas ↑